BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Proses Penciptaan Alam Semesta
Terdapat
perbedaan pandangan dikalangan umat muslim, tentang asal mula penciptaan
alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakandari tiada
menjadi ada, sementara pendapat lain mengemukakan bahwa alam semesta diciptakan
dari materi atau sesuatu yang sudah ada. Pendapat yang pertama, selalu
didasarkan pada kata khalaqa, yang digunakan dalam penciptaan alam semesta.
Mereka berpendapat bahwa penggunaan kata khalaqa memiliki arti penciptaan
sesuatu dari bahan yang belum ada menjadi ada.
Sementara
itu, Pendapat kedua didasarkan pada informasi Alquran yang mengindikasikan
bahwa alam semesta ini diciptakan dari materi yang sudah ada. Informasi seperti
ini diantaranya ditemukan dalam dua surah, yaitu QS Fushilat (41 :11) yang
menyatakan bahwa Allah swt menuju langit, sedangkan langit ketika itu masih
berupa dukhan ( asap ). Surat yang kedua, QS Al-Anbiyya ( 21 : 30 ), yang menginformasikan
bahwa langit dan bumi itu, dahulunya adalah sesuatu yang padu, lalu Allah
memisahkan keduanya. Pandangan kedua ini memiliki kesamaan dengan penelitian
yang di lakukan para pakar astronomi dan astro fisika yang menyimpulkan
bahwa keseluruhan alam semesta ini pada awalnya satu masa yang besar. kemudian
terjadi pemisahan, sehingga terbentuk galaksi. Galaksi
tersebut kemudian terbagi-bagi dalam bentuk bintang-bintang,
planet-planet, matahari, bulan dan lain-lain.
Dalam konteks proses penciptaan alam semesta, Al-farabi berpendapat
bahwa alam semesta ini trejadi karena limpahan dari yang Esa. Wujud Tuhanlah
yang melimpahkan wujud alam semesta. Terlepas dari perbedaan pandangan
diatas,Alquran menginformasikan bahwa alam semesta ini diciptakan tuhan tidak
secara sekaligus, tetapi melalui serangkaian tahapan, masa, atau proses. Dalam
sejumlahsurah Alquran selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang biasa
diterjemah kandalam arti enam hari, enam masa, atau mungkin enam priode. Selain
itu, dalam Alquran ditemukan pula ayat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan bumidalam
dua hari atau dua masa, dan menentukan kadar makanan penghuninya (rezeki)dalam
empat hari, dan menjadikan tujuh langit dalam dua hari.
B.
Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Allah
menegaskan bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan apa yang ada diantara
keduanya secara main-main, kecuali dengan al-haq.
Itu
berarti bahwa tidak ada ciptaan Allah, sekecil apapun ciptaan itu, yang tidak
memiliki arti dan makna, apa lagi alam semesta yang terbentang luas ini. Dalam
persfektif islam, tujuan penciptaan alam semesta ini pada dasarnya adalah
sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang
keberadaan dan kemaha kuasaan Allah.
Secara
ontologis, adanya alam semesta ini mewajibkan adanya zat yang mewujudkanya.
Keberadaan langit dan bumi mewajibkan adanya sang pencipta yang menciptakan
keduanya. Keberadaan alam semesta merupakan petunjuk yang sangat jelas, tentang
adanya keberadaan Allah sebagai Tuhan maha pencipta. Karenanya, dengan
mempelajari alam semesta manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah
adalah zat yang menciptakan Alam semesta. Alquran secara tegas menyatakan bahwa
tujuan penciptaan Alam semesta adalah untuk memperlihatkan kepada manusia
tanda-tanda keberadaan kekuasaan Allah. Disampig sebagai sarana untuk
menghantarkan manusia akan keberadaan dan keMaha kekuasaan Allah, dalam
presfektif islam, alam semesta beserta segala sesuatu yang berada didalamnya
diciptakan untuk manusia.
Dan
fungsi konkret alam semesta adalah fungsi rubbubiyah yang diciptakan Allah
kepada manusia, sehingga alam iniakan marah manakala manusia bertindak serakah
dan tidak bertanggung jawab.
C.
Kedudukan Alam Semesta dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
Allah
sebagai pencipta, pemilik kasih dan sayang untuk segenap makhluk- Nya alam
ini sebagai bukti dari kasih sayang Allah untuk manusia. Karna alamsemesta
diciptakan untuk manusia, maka Allah telah menundukkan bagi merekauntuk
kepentingan manusia. Allah menundukan apa yang ada dilangit dan bumi.Dialah
yang memudahkan alam ini bagi manusia dan menjadikannya sebagai tempattinggal
yang enak untuk didiami.
Agar
manusia mudah memahami alam semesta, maka Allah menciptakan ukuran atau
ketentuan yang pasti ( sunnah Allah). Padaalam semesta, sehingga ia bersifat
fredichtable. Kemudian, agar manusia mudahmemahami dan berinteraksi dengan alam
semesta ini, maka Allah menciptakandengan derajat yang lebih rendah dibanding
manusia. Untuk itu, manusia tidak bolehtunduk kepada alam semesta, tetapi harus
tunduk kepada Allah, Tuhan yang telahmenciptakan dan menundukan alam ini buat
mereka.Meskipun alam semesta ini diciptakan untuk manusia, namun bukan
berartimanusia dapat berbuat sekendak hati didalamnya. Hal ini bermakna
bahwakekuasaan manusia pada alam semesta ini bersifat terbatas. Manusia hanya
boleh mengolah dan memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan iradah atau
keinginan.
Tuhan
yang telah mengamanahkan alam semesta ini kepada manusia. Memang, sebagai
khalifah Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk
mengatur bumi dan segala isinya. Demikianpun, kekuasaan seorang
khalifah tidaklah bersifat mutlak, sebab kekuasaannya dibatasi oleh pemberi
amanah kekhalifahan itu, yakni Allah.
Dalam
persepektif pendidikan Islam, alam adalah guru manusia. Kita semua wajib
belajar dari sikap alam semesta yang tunduk mutlak pada hukum-hukum yang telah
ditetapkan Allah. Tidak terbayangkan oleh kita semua manakala
alam berprilaku diluar hukum-hukum Allah, alam melanggar sunahnya.
misalnya Gunung meletus menyemburkan api, matahari terbit dan turun ke bumi,
bintang-bintang berjatuhan, pohon-pohon tumbang, lautan meluap, ombak
menghantam, terjadi badai, dan bumi berhenti berputar. Pelajaran apa yang
dapat diambil dari kejadian demikian ? Demikian pula, manusia yang tidak mau
belajar dari konsistensi kehidupanalam, sifatnya berubah bagaikan binatang,
saling menipu dan lain lain. Rusaknya kehidupan alam disebabkan oleh prilaku
manusia yang tidak mau belajar dari alam semesta. Alam semesta ini dapat
dijadikan guru yang bijaksana. Belajar dari alam semesta adalah tujuan hidup
manusia dan secara filosofis, dimana kedudukan alam semesta bagaikan guru
dengan muridnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedudukan alam semesta dalam
perspektif filsafat pendidikan islam adalah sebagai guru yang mengajar
kepada manusia untuk bertindak sesuai dengan hukum yang telah
digariskan Tuhan.
D.
Kedudukan Manusia dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
1.
Kedudukan
Manusia
Kesatuan
wujud manusia antara fisik dan psikis serta didukung oleh potensi-potensi yang
ada membuktikan bahwa manusia sebagai ahsan at-taqwin dan menempatkan manusia
pada posisi yang strategis yaitu: Hamba Allah (‘abd Allah) dan Khalifah Allah
(Khalifah fi al-ardh).
a.
Manusia
sebagai Hamba Allah (‘abd Allah)
Musa
Asy’arie mengatakan bahwa esensi ‘abd adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan
yang kesemuanya itu hanya layak diberikan kepada Tuhan. Ketundukan dan ketaatan
pada kodrat alamiah senantiasa berlaku baginya. Ia terikat oleh hukum-hukum
Tuhan yang menjadi kodrat pada setiap ciptaannya, manusia menjadi bagian dari
setiap ciptaannya, dan ia bergantung pada sesamanya. Sebagai hamba Allah,
manusia tidak bisa terlepas dari kekuasaannya. Sebab, manusia mempunyai fitrah
(potensi) untuk beragama. Mulai dari manusia purba sampai kepada manusia modern
sekarang yang mengakui bahwa diluar dirinya ada kekuasaan transendental.
Hal
ini disebabkan karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk
beragama sesuai dengan fitrahnya. Pada masa purba manusia mengasumsikannya
lewat mitos yang melahirkan agama animisme dan dinamisme.
Meskipun
dengan pemikiran dan kondisi yang cukup sederhana, manusia dahulu
telah mengakui bahwa diluar dirinya ada zat yang lebih berkuasa dan
menguasai seluruh kehidupannya. Namun mereka tidak mengatahui hakikat zat yang
berkuasa. Mereka aplikasikan apa yang mereka yakini dengan berbagai bentuk
upacara ritual seperti pemujaan terhadap batu besar, gunung, matahari dan roh
nenek moyang mereka. Kesemuanaya itu menjadi bukti, bahwa ia adalah makhluk
yang memiliki potensi untuk beragama. Allah SWT berfirman:
Artinya: Maka
hadapkanlah wajahmu kepada agama (Allah), tetaplah pada fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah (agama) itu ada perubahan pada fitrah Allah.
Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS.
30 : 30)
Berdasarkan ayat
diatas, jelaslah bahwa bagaimanapun modernnya atau primitifnya suatu suku
bangsa manusia, mereka akan mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa di luar
dirinya.
Selanjutnya
Allah SWT berfirman:
Artinya: Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku (QS. 51: 56)
Berdasarkan
ayat tersebut terlihat bahwa seluruh tugas manusia dalam hidup ini berakumulasi
pada tanggung jawab mengabdi (beribadah) kepada-Nya. Pengakuan manusia akan
adanya Tuhan secara naluriah menurut informasi Al-Qur’an disebabkan telah
terjadinya dialog antara Allah dan roh manusia takkala berada di alam arwah.
Firman Allah
SWT :
Artinya: “Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka (anak-anak Adam menjawab: “Betul (Engkau
Tuhan Kami) Kami menjadi saksi....” (QS. 7 : 172)
Dengan
demikian, kepercayaan dan ketergantungan manusia dengan Tuhannya, tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena manusia telah berikrar sejak alam
(mitsaq), sejak alam arwah bahwa Allah SWT adalah Tuhannya. Kepercayaan manusia
kepada Zat Maha Agung yang ada diluar dirinya juga diiringi oleh Realisme
Instinktif yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Kepatuhan tersebut kemudian
dimanifestasikannya lewat peribadatan-peribadatan ritual, sehingga manusia
memiliki beban dan tugas sebagai makhluk pengabdi kepada Tuhannya. Dengan
demikian, rasa tunduk dan kepatuhan manusia kepada Zat Yang Maha Agung merupakan
tabiat asli (fitrah) manusia yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai nilai
ubudiyah kepada-Nya. Pengenalan dan pengabdian yang dilakukan manusia sebagai
realisasi kepada Tuhannya pada mulanya mereka melakukan sesuai dengan
keterbatasan akalnya. Allah tidak ingin manusia berada selalu dalam kesesatan.
Untuk itu, Allah SWT memperkenalkan kepada manusia cara melakukan pengabdian.
Dengan pendekatan dan kemampuan yang dimilikinya mengantarkan manusia mampu
melaksanakan pengabdiannya sesuai aturan yang dikehendaki Allah.
Dalam
konsep animistik misalnya, manusia merasakan ketidakmampuannya dan ingin
mendapatkan perlindungan dan pertolongan kepada Zat Yang Maha Agung. Namun,
keterbatasan akalnya manusia tidak bisa menemukannya. Akhirnya
manusia purba mengkultuskan benda-benda alam yang dianggapnya mempunyai
kekuatan gaib (mana) dan selanjutnya dilakukan penyembahan kepada benda-benda
tersebut.
Untuk
itu, Allah mengutus para Rasul-Nya sebagai pemberi petunjuk kepada manusia,
mana yang harus mereka sembah sebenarnya. Lewat inisiatif pengakuan akan adanya
Zat Yang Menguasainya, lewat bimbingan wahyu (ajaran agama) yang disampaikan
dengan perantaraan Rasul, diharapkan manusia akan mampu mengenal khalidnya
lewat pengabdian yang ditunjukkannya dalam kehidupan.
b.
Manusia
sebagai Khalifah Allah fi al-ardh
Bila
ditinjau, kata khalifah berasal dari madli khalafa yang berarti
“mengganti dan melanjutkan”. Bila pengertian tersebut ditarik pada pengertian
khalifah, maka dalam konteks ini artinya lebih cenderung kepada pengertian
mengganti yaitu proses penggantian antara sat individu dengan individu yang
lain.
Menurut
Quraish Shihab, istilah khalifah dalam bentuk mufrad (tunggal) berarti penguasa
politik dan religius. Istilah ini digunakan unutk nabi-nabi dan tidak digunakan
untuk manusia pada umumnya. Sedangkan untuk manusia biasa digunakan khala’if
yang didalamnya mengandung makna yang lebih luas yaitu bukan hanya sebagai
penguasa dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam hubungan pembicaraan dengan
kedudukan manusia dialam ini, nampaknya istilah khala cocok digunakan
dibandingkan kata khalifah. Namun demikian yang terjadi dalam penggunaan
sehari-hari adalah manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Pendapat yang demikian
memang tidak ada salahnya karena dalam istilah khala’if sudah terkandung makna
istilah khalifah. Sebagai seorang khalifah, manusia berfungsi menggantikan
orang lain dan menempati tempat serta kedudukan-Nya. Ia menggantikan kedudukan
orang lain dalam aspek kepemimpinan atau kekuasaan.
Untuk
lebih menegaskan fungsi kekhalifahan manusia di alam ini, dapat dilihat
misalnya dalam ayat-ayat dibawah ini:
Artinya: “dan
dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan dia meninggikan
sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat”. (QS. Al-An’am: 165).
Artinya:
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang
kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. (QS. Fathir :
39)
Artinya: “Dan
ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti
(yang berkuasa) sesudag lenyapnya Nuh, dan Tuhanmu telah melebihkan kekuatan
tubuh dan perwakanmu (dari pada kaum nuh itu). (QS. Al-A’raf: 69).
Ayat-ayat
tersebut di atas, di samping menjelaskan kedudukan manusia di dalam raya
sebagai khalifah dalam arti yang luas juga memberi isyarat tentang perlunya
sikap moral atau etika yang harus ditegakkan dalam melaksanakan fungsi
kekhalifahannya. Quraisy Shihab mengatakan bahwa hubungan antara manusia dengan
alam atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan antara
penakluk dengan ditaklukkan, atau antara tuan dengan hamba tetapi hubungan
kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT. Sebab, meskipun manusia mampu
mengelola (menguasai) namun hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya,
tetapi akibat Tuhan menundukkannya untuk manusia. Oleh karena itu, manusia
dalam visi kekhalifahannya bukan saja sekedar menggantikan, namun dengan arti
yang luas ia harus senantiasa mengikuti perintah yang digantikan (Allah).
Untuk
melaksanakan tugasnya sebgai khalifah, Allah telah memberikan kepada
manusia seperangkat potensi (fitrah) berupa aql, qalb, dan nafs.
Namun demikian, aktualisasi fitrah tersebut tidak otomatis berkembang,
melainkan tergantung pada manusia itu sendiri mengembangkannya. Untuk itu,
Allah menurunkan wahyu-Nya kepada para Nabi agar menjadi pedoman bagi manusia
dalam mengaktualisasikan fitrahnya secara utuh dan selaras dengan tujuan
penciptaannya. Dengan pedoman ini manusia akan dapat tampil sebagai makhluk
Allah yang tinggi martabatnya. Jika tidak manusia akan tidak berbeda esensinya
dengan hewan.
Dengan
kedudukan, fungsi, dan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya
melebihi makhluk lain, memiliki konsekuensi nilai moral religius. Untuk itu,
manusia harus mempertanggung jawabkan semua aktifitas perbuatannya di hadapan
khaliknya. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah SAW:
Dari Ibn Umar
ra. Berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiap-tiap kamu adalah
pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya terhadap apa
yang dipimpinnya...” (HR. Mutafaq’Alaih).
Selanjutnya
Ahmad Hasan Firhat, membedakan kedudukan kekhalifahan manusia pada
dua bentuk, yaitu:
Pertama,
khalifah kauniyat. Dimensi ini mencakup wewenang manusia secara umum yang telah
dianugerahkan Allah SWT untuk mengatur dan memanfaatkan alam semesta beserta
isinya bagi kelangsungan kehidupan umat manusia dimuka bumi. Pemberian wewenang
Allah SWT kepada manusia dalam konteks ini, meliputi pemaknaan yang bersifat
umum tanpa dibatasi oleh agama apa yang mereka yakini. Artinya, label
kekhalifahan yang dimaksud diberikan keada semua manusia sebagai penguasa alam
semesta. Bila dimensi ini dijadikan standard dalam melihat predikat
manusia sebagai khalifah fi al-ardh, maka akan berdampak negatif bagi
kelangsungan kehidupan manusia dan alam semesta. Manusia dengan kekuatannya
akan mempergunakan alam semesta sebagai konsekuensi kekhalifahannya tanpa
kontrol dan melakukan penyimpangan-penyimpangan dari nilai Ilahiyah. Akibatnya,
keberadaannya di muka bumi bukan lagi sebagai pembawa kemakmuran, namun
cenderung berbuat mafsadah dan merugikan makhluk Allah lainnya. Ketiadaan nilai
kontrol inilah yang dikhawatirkan malaikat tatkala Allah mengutarakan
keinginan-Nya menciptakan makhluk yag bernama manusia.
Kedua,
khalifah syariyah. Dimensi ini merupakan wewenang Allah yang diberikan kepada
manusia untuk memakmurkan alam semesta. Hanya saja, untuk melaksanakan tugas
dan tanggung jawab ini, predikat khalifah secara khusus ditujukan kepada
orang-orang mukmin. Hal ini dimaksudkan agar dengan keimanan yang dimilikinya
mampu menjadi pilar dan kontrol dalam mengatur mekanisme alam semesta, sesuai
dengan nilai-nilai ilahiyah yang telah digariskan Allah lewat ajaran-Nya.
Dengan prinsip ini, manusia akan senantiasa berbuat kebaikan dan memanfaatkan
alam semesta demi kemaslahatan umat manusia.
E.
Hakikat Ilmu Pengetahuan
Menurut
Quraish Shihab, kata ilmu dalam bebrbagai bentuk terdapat 854 kali dalam
Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Ilmu dari segi
bahasa berarti kejelasan. Jadi ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas
tentag sesuatu. Pengetahuan yang tidak jelas dari segi ontology, epistimologi
maupun aksiologi di dalam Islam tidak dianggap sebagai ilmu walaupun orang
menyebutnya ilmu juga.
Persoalan
hakikat ilmu pengetahuan atau apa sebenarnya pengetahuan (ontology) telah
menjadi perdebatan antara kaum materialis dan kaum idealis. Kaum materialis
hanya mengenal pengetahuan yang bersifat empiris dengan pengertian bahwa
pengetahuan hanya diperoleh dengan menggunakan akal atau indera yang bersifat
empiris dan terdapat di alam materi yang ada di dunia ini. Sedangkan menurut
kaum idealis, termasuk Islam, ilmu pengetahuan bukan hanya diperoleh dengan
perantaraan akal dan indera yang bersifat empiris saja¸ tetapi juga ada
pengetahuan yang bersifat immateri, yaitu ilmu pengetahuan yang berasal dari
Allah sebagai Khalid (Pencipta) pengetahuan tersebut.
Beberapa
pandangan yang berbeda tentang pengetahuan yakni: pandangan aliran realisme,
idealisme, dan pragmatisme.
a.
Realisme.
Secara
umum, aliran filsafat realisme berpendapat bahwa dunia material merupakan dunia
yang riil (nyata) dan bukan sesuatu yang maya. Dunia material seperti meja,
kursi, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan lainnya dalam pikiran manusa,
melainkan wujud itu sendiri.
b.
Idealisme
Idealisme
secara umum merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa sesungguhnya yang
riil (nyata) itu bersifat ruhani, dan itu adalah ide (gagasan dan kesadaran)
yang ada dalam subyek. Keberadaan dan arti benda-benda material tergantung
kepada subjek yang mengamati dan memahaminya dengan akal budi.
c.
Pragmatisme
Pragmatisme
merupakan aliran filsafat yang muncul dan berkembang di Amerika Serikat dan
dipelopori oleh tokoh-tokohnya seperti Carles S. Pierce, Jhon Dewey dan Wiliam
James. Ilmu pengetahuan modern amat berpengaruh pada metode dan bangunan
filsafat mereka. Seperti halnya idealisme, pragmatisme berpendapat bahwa akal
budi manusia itu aktif mencari pengetahuan dan bukan hanya pasif menerima saja
apa yang diberikan dari luar. Pengethauan merupakan hasil interaksi
atau transaksi dengan lingkungan.
F.
Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Filsafat Pendidikan
Islam
Ilmu
menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam. Hal ini banyak
terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam
posisi yang tinggi dan mulia disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi
dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam
Al-Qur’an, kata ilmu digunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran
Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa yang
berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam
sebagaimana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani sebagai berikut: “Salah satu
ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap
masalah ilmu (sains), Al-Qur’an dan Al-Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari
dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang
pengetahuan pada derajat tinggi”.
G.
Perintah Al-Qur’an untuk mencari, menemukan dan mempelajari ilmu.
Perintah
Al-Qur’an untuk mencari ilmu dapat dipahami dari dua aspek:
1.
Al-Qur’an
menyuruh manusia menggunakan akal.
Rasio
(akal) adalah merupakan salah satu dari perangkat anugerah (hidayah) yang
diberikan oleh Tuhan kepada manusia.
2.
Al-Qur’an
menyuruh manusia meneliti alam semesta.
alam
semesta (universum, kosmos, al-kaun) merupakan realitas yang dihadapi manusia
yang sampai kini baru sebagian kecil yang dapat diketahui dan diungkap oleh
manusia. Bagian terbesar masih merupakan suatu misteri, yang tidak dikenal oleh
manusia betapapun kemajuan yang telah mereka capai dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi.
H.
Cara memperoleh pengetahuan
Dalam
filsafat ilmu cara mendapatkan pengetahuan ilmu dinamakan epistimologi. Dalam
epistimologi Islam, pengetahuan diperoleh melalui dua cara yaitu: melalui usaha
manusia dan yang diberikan oleh Allah SWT.
Pengetahuan
yang diperoleh melalui manusia usaha manusia, ada 4 jenisnya yaitu:
1.
Pengetahuan
empiris yang diperoleh melalui indera.
2.
Pengetahuan
sains yang diperoleh melalui indera dan akal.
3.
Pengetahuan
filsafat yang diperoleh melalui akal.
4.
Pengetahuan
intuisi yang diperoleh melalui qalb (hati).
Sedangkan
pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT, berupa:
1.
Wahyu
yang disampaikan kepada para Rasul.
2.
Ilham
yang diterima oleh akal manusia
3.
Hidayah
yang diterima oleh qalb manusia.
I.
Sumber dan Fungsi Pengetahuan
Sumber
utama dari ikmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah
kebenaran yang langsung disampaikan Tuhan kepada salah seorang hamba-Nya, yang
dipilih-Nya, yang di sebut Rasul atau Nabi.
Al-Qur’an
disamping mengandung petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunan yang bersifat
ubudiyah dan akhlaqiyah (moral), juga mengandung petunjuk-petunjuk yang dapat
dipedomani manusia untuk mengolah dan menyelidiki alam semesta, atau
untuk mengerti gejala-gejala dan hakekat hidup yang dihadapinya dari masa ke
masa. Oleh karena itu, manusia berkewajiban untuk mencari dan menggali dari
prinsip-prinsip dasar dalam Al-Qur’an dengan menggunakan kemampuan-kemampuan
ijtihad dan daya analisis yang terdapat dalam diri manusia. Al-Qur’an merupakan
ayat Allah beriringan dan berdampingan dengan Sunnatullah yang menjadi dasar
pergerakan dan perjalanan alam ini. Sehingga antara alam dan Al-Qur’an tidak
dapat dipisahkan satu sama lain karena keduanya saling menafsirkan dan saling
memberi petunjuk kepada manusia mengenai jalan yang harus ditempuh untuk
mencapai kesejahteraan duniawi dan ukhrawi.
Adapun
fungsi ilmu pengetahuan secara umum adalah : untuk berubudiyah kepada Allah,
untuk dapat membedakan antara hak dan yag bathil, yang salah dan dan yang
benar, serta sebagai modal untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat. Rasulullah SAW telah bersabda:
Artinya: “Siapa
yang bermaksud untuk urusan di dunia maka harus dengan ilmu, siapa yang
bermaksud untuk keduanya harus dengan ilmu”. (HR. Muslim).
![]() |
